Wakaf Harta
orang yang mewakafkan harta disebut

Orang yang Mewakafkan Harta disebut

Posted on

Orang yang Mewakafkan Harta disebut

Agama islam merupakan agama yang indah dan harmonis, dalam ajarannya dianjurkan untuk saling menebar kasih antar sesama umat muslim, saling menolong dalam kebaikan bahkan saling mendoakan. Dalam ajaran islam pula tidak ada suatu perbuatan atau amalan yang tidak ada balasnya, sekecil apapun keburukan pasti akan ada balasan dari Rabbnya dan sekecil apapun kebaikan pasti akan ada pahala dari Allah subahanahu wata’ala.

Rezeki baik berupa harta atau sejenisnya yang Allah berikan kepada hambaNya tidak selalu sama anatar yang satu dengan yang lainnya. Bagi beberapa orang Allah takdirkan untuk dikaruniai rezeki harta kekayaan yang berlimpah. Kekayaan tersebut bisa juga bersifat ujian untuk orang yang menerimanya bagaimana dia memperlakukan hartanya, apakah hartanya akan digunakan di jalan Allah atau sebaliknya.

Dalam mensyukuri harta yang kita miliki terlebih lagi jika harta tersebut melimpah melebihi kecukupan, islam mengajarkan untuk berbagi kepada pihak yang membutuhkan. Hal tersebut selain ungkapan syukur kita kepada Allah juga bisa membangun keharmonisan antar sesama manusia.

Salah satu penyaluran kelebihan harta dalam islam dikenal dengan istilah wakaf. Wakaf tersebut terdiri dari beberpa syarat dan rukun diantaranya adanya orang yang mewakafkan harta disebut juga wakif, ada harta yang diwakafkan dan sebagainya.

A. Pengertian Wakaf

Menurut mazhab Syafi’i berpendapat bahwa wakaf yaitu melepaskan harta yang diwakafkan dari kepemilikan wakif, setelah melalui prosedur perwakafan dengan sempurna.

Apabila seorang wakif wafat, maka harta yang diwakafkan tidak bisa diwarisi oleh ahli warisnya. Berdasarkan hal tersebut dapat dikatakan bahwa wakif tidak melakukan suatu tindakan terhadap suatu benda, yang berstatus sebagai milik Allah swt, dengan menyedekahkan manfaatnya kepada suatu kebajikan (sosial).

Wakaf dinyatakan sah jika rukun dan syaratnya telah terpenuhi dengan sempurna. Adapun rukun wakaf terdiri dari orang yang mewakafkan harta disebut wakif, baranga atau harta yang diwakafkan (mauquf bih), pihak yang diberi wakaf/peruntukan wakaf (Mauquf ‘Alaih) dan peryataan atau akad wakif (Shighat).

B. Pengertian Wakif

Di bawah ini secara ringkas akan mengulas mengenai salah satu rukun dalam wakaf, yaitu orang yang mewakafkan harta disebut juga dengan wakif yang memiliki syarat dan ketentuan yang telah ditetapkan oleh syariat islam.

Wakif memiliki pengertian orang atau orang-orang ataupun badan hukum yang mewakafkan benda miliknya untuk digunakan dalam bentuk kebajikan.

1. Syarat Wakif

a. Merdeka

Syarat seorang wakif harus dalam keadaan merdeka, artinya bukan seorang hamba sahaya. Hal tersebut dikarenakan wakaf merupakan perpindahan hak milik kepada orang lain. Sedangkan seorang hamba sahaya tidak memiliki hak milik penuh terhadap sesuatu termasuk dirinya.

b. Berakal sehat

Wakif harus dalam kondisi berakal sehat, denga demikian wakaf yang dilakukan oleh orang gila, lemah mental ataupun pikun maka hukumnya tidak sah, dikarenakan dia tidak berakal sehat, tidak bisa membedakan baik atau buruk, serta tidak memiliki kecakapan dalam ucapan maupun tindakan.

c. Dewasa (baligh)

Proses wakaf yang wakifnya masih berusia anak – anak yang belum mencapai usia dewasa (baligh) maka hukumnya tidak sah, karena anak belum baligh dinilai belum meiliki kemampuan untuk melakukan akad, selain itu dian belum mencapai mummayiz.

d. Tidak berada di bawah pengampuan (boros/lalai)

Orang yang berada di bawah pengampuan dinilai tidak memiliki kemampuan untuk berbuat kebaikan (tabarru’), maka wakaf yang dilakukan hukumnya tidak sah.

Namun sebagian pendapat mengemukakan wakaf orang yang berada di bawah pengampuan terhadap dirinya
sendiri selama hidupnya hukumnya sah.

Dalam point ini terdapat beberapa hukum wakaf yaitu:
a) Orang yang mempunyai hutang, maka hukum wakafnya ada tiga, yakni:

  • Jika dia dalam kondisi di bawah pengampuan karena hutang lalu dia mewakafkan seluruh atau sebagian hartanya, sedang hutangnya meliputi seluruh harta yang dimiliki, hukum wakafnya tergantung kerelaan kreditur. Jika kreditur merelakan hutangnya maka wakafnya sah, jika tidak merelakannya maka wakaf tidak bisa dilaksanakan. Namun jika hutangnya tidak meliputi seluruh hartanya maka wakaf bisa dilaksanakan dengan harta yang tersisa.
  • Apabila wakif dalam kondisi pengampuan karena hutang, kemudian mewakafkan sebagian atau semua hartanya sedang dia menderita sakit parah maka hukum wakafnya sama seperti kondisi yang pertama yaitu tergantung kerelaan kreditur serta tergantung jumlah hutang yang dimiliki.
  • Jika dia tidak di bawah pengampuan karena hutang dan mewakafkan semua atau sebagian hartanya ketika dalam kondisi sehat, maka wakafnya sah dan dapat dilaksanakan baik hutangnya meliputi seluruh harta atau sebagian. Karena dalam kasus demikan tidak ada hak debitur, yang ada tergantung hak mereka pada tanggungannya saja. Selain itu, setelah wakaf terlaksana debitur kemungkinan bisa melunasi semua hutangnya, dikarenakan dia masih sehat dan bisa mencari harta lagi.

b) Jika wakif mewakafkan hartanya saat dalam sedang sakit parah namun masih memiliki kemampuan untuk mewakafkan maka wakafnya sah jika dia tidak dalam keadaan berhutang.

Namun jika dia meninggal hukum wakaf seperti hukum wasiat, yaitu jika yang diberi wakaf bukan ahli waris maka harta yang diwakfkan hanya 1/3 dari hartanya, selebihnya menjadi hak ahli waris. Sedangkan apabila yang diberi wakaf adalah ahli warisnya, maka pelaksanaan wakafnya tergantung berdasarkan keikhlasan dari ahli waris lainnya yang tidak menerima wakaf, berdasarkan keikhlasan dan musyawarah dengan ahli waris lainnya wakaf tersebut bisa berjumlah 1/3, bisa kurang atau lebih dari harta wakif yang ditinggalkan.

 

 

 

 

Demikianlah pembahasan mengenai syarat dan rukun orang yang mewakafkan harta disebut wakif. Berdasarkan pembahasan di atas semoga dapat membantu umat muslim dalam dalam pelaksanaan dan pengelolaan harta wakaf.

Dengan demikian dengan adanya ajaran dalam agama islam mengenai aturan dalam mewakafkan harta akan meminimalisir terjadinya sengketa mengenai harta wakaf baik dengan masyarakat, saudara bahkan dengan keluaga. hal tersebut dikarenakan dalam agama islam sudah diatur sedemikian rupa bagaimana tata cara pelaksanaan dan pengelolaan harta wakaf, kita sebagai umat islam hanya perlu mengikuti aturan yang telah ditetapkan berdasarkan syariat agama.

Leave a Reply

Your email address will not be published.