Orang yang Meriwayatkan Hadits disebut

Posted on

Orang yang Meriwayatkan Hadits disebut

Mungkin banyak yang masih bertanya orang yang meriwayatkan hadits disebut apa ya?

Sebelum kita membahas orang yang meriwayatkan hadits disebut apa, alangkah baiknya kita mengetahui pengertian dasar dari hadits.

A. Pengertian Hadits

Hadits merupakan sumber pedoman kedua setelah Alquran yang dijadikan patokan dalam pengambilan hukum Islam.

Menurut KBBI atau Kamus Besar Bahasa Indonesia Hadits adalah sabda perbuatan taqrir atau ketetapan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam yang diriwayatkan atau diceritakan oleh sahabat untuk menjelaskan dan menetapkan hukum Islam.

Hadits biasanya berisi tentang perkataan atau perbuatan Rasulullah yang berfungsi untuk dijadikan pedoman atau panduan agar umatnya dapat berperilaku sesuai dengan tuntunan Rasulullah.

Kata al-riwayat adalah masdar dari kata kerja rawa dan dapat berarti al-naql (penukilan), al-zikr (penyebutan), al-fatl (pemintalan). Dan dalam bahasa Indonesia dapat diterjemahkan dengan periwayatan, dalam ilmu Hadits ketika ada ungkapan al-riwayat yang dimaksud adalah periwayatan Hadits (Ismail, 2005:  23). Sedangkan definisi al-riwayat menurut istilah ilmu Hadits adalah kegiatan penerimaan dan penyampaian Hadits, serta penyandaran Hadits itu dalam rangkaian para periwayatnya dengan bentuk-bentuk tertentu (Ismail, 2005: 23).

Orang yang telah menerima Hadits dari seorang periwayat, tetapi ia idak menyampaikan Hadits tersebut kepada orang lain, maka ia tidak disebut sebagai orang yang meriwayatkan Hadits. Sekiranya orang tersebut menyampaikan Hadits yang telah diterimanya kepada orang lain, tetapi ketika menyampaikan Hadits itu dia tidak menyebutkan rangkaian para periwayatnya, maka orang tersebut juga tidak dapat dinyatakan sebagai orang yang telah melakukan periwayatan Hadits.

Orang yang meriwayatkan hadits disebut al-rawi, dan apa yang diriwayatkan dinamai al-marwi. Sedangkan susunan rangkaian para periwayat dinamakan sanad ada juga yang menyebut dengan isnad, dan kalimat yang disebutkan sesudah sanad disebut dengan al-matn. Adapun kegiatan atau proses yang berisi seluk-beluk penerimaan dan penyampaian Hadits lazim dikenal dengan istilah tahammul wa ada’ al hadith.

Dengan demikian, seseorang baru dapat dinyatakan sebagai periwayat Hadits, apabila dia telah melakukan pada apa yang disebut dengan tahammul wa ada’al-hadith dan Hadits yang disampaikannya tersebut lengkap berisi sanad dan matan (Ismail, 2005: 23).

B. Syarat-syarat Meriwayatkan Hadits

Perawi hadits atau orang yang meriwayatkan hadits hendaknya memenuhi syarat-syarat yang harus dipenuhi dalam periwayatannya, diantaranya yaitu sebagai berikut.

  1. Orang yang meriwayatkan hadits haruslah beragama islam;
  2. Orang yang meriwayatkan hadits haruslah berstatus mukallaf, artinya dia telah baligh dan berakal;
  3. Orang yang meriwayatkan hadits harus bersifat adil;
  4. Orang yang meriwayatkan hadits harus memiliki sifat dhabit, yaitu orang yang kuat hafalannya tentang apa yang telah didengarnya dan mampu menyampaikan hafalannya kapan saja

C. Bentuk-bentuk Periwayatan Hadits

Dalam meriwayatkan sbuah hadits, sahabat Nabi merupakan generasi pertama yang langsung menerima sabda-sabda dari Nabi.

Namun dalam aktivitasnya, para sahabat berbeda-beda cara dalam menerima sabda tersebut, bahkan tiap seorang dari sahabat tidak dapat dan tidak mungkin mengetahui langsung semua Hadits, baik yang berbentuk perkataan (aqwal), perbuatan (af’al), maupun persetujuan Rasulullah dengan cara mendiamkan atau tidak menyanggah atas suatu perkataan atau perbuatan (taqrir).

Hal tersebut karena banyaknya jumlah para sahabat dengan berbagai aktivitasnya sehingga tidak memungkinkan mereka semua berada bersama Rasulullah setiap harinya bahkan setiap waktunya. Sedangkan cara yang dilakukan para ulama di masa-masa berikutnya dalam menyampaikan hadits yaitu dengan meneliti kehidupan perawi, baik yang berkaitan dengan keadaan khusus dan keadaan yang bersifat umum.

Para ulama di masa-masa berikutnya melakukan penelitian dengan tekun dan cermat, meneliti susunan periwayatan bagaimana seorang periwayat tersebut memperoleh hadits dari gurunya dan bagaimana cara periwayat menyampikan riwayat tersebut kepada periwayat lain.

D. Metode Periwayatan Hadits

Dalam proses periwayatan Hadits terdapat beberapa bentuk atau model, bentuk periwayatan disini mencakup pada al-tahammul (pengambilan riwayat) dan alada’(penyampaian riwayat).

Adapun bentuk-bentuk tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Mendengar (As Sima’i)

Metode pertama dalam meriwayatkan hadits yaitu as-sima’i yang artinya mendengar.  Maksudnya, dengan metode atau model As Sima’i seseorang mendengar sendiri riwayat hadis itu dari gurunya, baik didektekan maupun tidak, baik dari hafalannya maupun dari tulisannya.

Namun, dalam metode ini perlu dilakukan lagi penelitian terhadap apa yang didengar, hal tersebut dikarenakan kualitas pendengaran seseorang bisa saja berbeda.

  1. Membaca (al-qira’ah)

Seorang periwayat hadits dalam meriwayatkan hadits salah satunya dengan menggunakn metode atau model membaca.  Metode membaca di sini adalah kegiatan membaca seorang murid di depan gurunya, baik secara hapalan maupun dengan melihat, membaca dan memahami sebuah kitab.

  1. Ijazah (pemberian izin)

Metode atau model periwayatan hadits yang selanjutnya yaitu ijazah.  Pada dasarnya, ijazah ialah ucapan lisan seorang guru yang disampaikan dalam bahasa yang tegas kepada muridnya, bila dilakukan secara tertulis tanpa diucapkan, tidak diperbolehkan oleh sejumlah ulama.

Dengan kata lain ijazah adalah pemberian izin periwayatan baik secara ucapan maupun tulisan. Sebagai contoh seorang guru berkata dengan tegas kepada muridnya “saya memberikan ijazah kepadamu untuk meriwayatkan kitab shahih al-bukhari “

  1. Memberi (al-Munawalah)

Model atau metode selanjutnya dalam meriwayatkan hadits yaitu metode memberi (al-Munawalah). Bentuk yang paling kuat dan paling tinggi adalah al-Munawalah Ma’a al-Ijazah Au bi al-Ijazah (Al-Thahhān, 135).

Selain itu, Salih (2009:101) mengatakan al-munawalah yakni pemberian sebuah kitab atau sebuah Hadits tertulis dari seorang guru seraya berkata: “aku berikan ini kepadamu dan aku ijazahkan kamu untuk meriwayatkannya, ambillah dan riwayatkanlah ia dariku.

Ada juga bentuk lain, seperti ucapan guru kepada muridnya: “ ambillah kitab ini, kutip dan telitilah, lalu kembalikan kepada saya.”

Selain kedua bentuk di atas, ada bentuk lain yaitu; seorang murid datang kepada gurunya untuk meminta kitab yang isinya pernah ia dengar dari gurunya. Lalu sang guru mengambil kitab seraya berkata: “riwayatkanlah dari saya”.

Dengan demikian berdasarkan pendapat para ahli di atas yang dimaksud dengan istilah memberi atau al-Munawalah ini adalah tindakan pemberian sebuah kitab atau sebuah Hadits tertulis oleh seseorang supaya disampaikan dan diriwayatkan.

  1. Menulis (al-Kitabah)

Model atau metode selanjutnya dalam meriwayatkan hadits yaitu metode menulis (al-Kitabah).

Contoh dari metode ini di sebutkan oleh Salih yaitu seorang guru menulis sendiri atau dengan memerintahkan orang lain untuk menuliskan beberapa Hadits kepada orang yang ada dihadapannya untuk menimba ilmu darinya, atau seseorang lain yan berkirim surat padanya.

  1. Memberitahukan (al-‘I’lam)

Model atau metode berikutnya dalam meriwayatkan hadits yaitu metode memberitahukan (al-‘I’lam). Al-‘I’lam ialah tindakan seorang yang mengabari muridnya bahwa kitab atau Hadits ini termasuk riwayat darinya atau dari yang didengarnya dari sesesorang (fulan) tanpa memberi ijazah untuk menyampaikannya.

Dalam kitab Taisir Mustalah al-Hadith, Mahmud al-Tahhan (Al-Thahhān, 136) menjelaskan bahwa terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai hukum periwayatan dengan I’lam.

Setidaknya ada dua pendapat. Pertama bolehnya metode ini pendapat tersebut diriwayatkan dari sebagian ulama Hadits, fikih dan usul.  Kedua, hukum metode ini tidak boleh, pendapat tersebut diriwayatkan dari sebagian ulama Hadits, dan ini adalah pendapat yang sahih.

  1. Wasiat (al-Wasiyah)

Wasiat biasanya merupakan penegasan dari seseorang sewaktu hendak bepergian atau mendekati saat-saat kematiannya.  Dalam hal meriwayatkan hadits melaui metode ini berarti seorang guru atau ahli kitab yang berwasiat kepada seorang tentang kitab tertentu yang diriwayatkan.

Dengan wasiat, sang guru seolah – olah telah memberi sesuatu kepada muridnya, dan memberitahukan bahwa sesuatu itu termasuk riwayatnya, hanya saja lafaz-lafaznya saja yang tidak jelas (Salih, 2009:104).

Orang yang mendapat wasiat ketika menyampaikan riwayat wajib terikat pada susunan kata-kata (redaksi) si pemberi riwayat, dalam arti dia tidak boleh menambahi maupun menguranginya.  Sebab, wasiat ilmu pada dasarnya sama dengan wasiat harta. Jadi, yang diwasiatkanpun harus jelas jumlahnya atau keadaannya.

Wasiat yang diberikan berupa sebuah kitab atau beberapa kitab, berua sebuah Hadits atau beberapa Hadits, dan apakah sesuatu itu berupa apa yang ia dengar atau yang ia riwayatkan.  Semuanya harus sama dengan pernyataan yang diberikan oleh sang guru yang mewasiatkan (Salih, 2009: 105).

  1. Penemuan (al-Wijadah)

Menurut Subhi Salih (2009: 105), bentuk ini adalah sumber Hadits yang tidak pernah diketahui orang arab pada umumnya.  Para ulama Hadits menjadikannya suatu metode pengambilan ilmu dari sahifah, bukan dengan cara mendengar, ijazah maupun munawalah.

Misalnya, seseorang menemukan sebuah Hadits tertulis dari seorang guru yang pernah ia jumpai, yang lalu ia tulis ulang kemudian ia sampaikan. atau, dia memang tidak pernah menjumpai guru tersebut, akan tetapi ia yakin bahwa tulisan itu benar miliknya.

Begitu pula halnya bila dia menemukan beberapa Hadits dalam kitab-kitab terkenal, seseorang yang memperoleh Hadits dengan cara demikian harus meriwayatkannya dari gurunya dengan cara hikayat atau cerita.

Disamping itu, ia wajib memberlakukan isnad Hadits seperti keadaan aslinya dan menceritakan jujur tentang penemuannya itu, hal ini pernah dilakukan oleh Abdullah bin Ahmad bin Hanbal, ia berkata “aku menemukan tulisan ayahku yang berisi ‘Fulan memberikan Hadits kepadaku’ “.

Berdasarkan paparan diatas maka dapat disimpulkan bahwa dalam agama Islam terdapat 2 pedoman yang dijadikan sebagai tuntunan hidup, diantaranya yaitu Alquran dan  Hadits.

Hadits merupakan sumber  pedoman kedua setelah Alquran meskipun menjadi pedoman kedua  hadis merupakan sumber pedoman yang penting  yang dijadikan patokan dalam pengambilan hukum Islam.

Hadits biasanya berisi da dari perkataan perbuatan atau taqrir Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam yang diriwayatkan atau diceritakan oleh sahabat Rasulullah untuk menjelaskan dan menetapkan hukum Islam.

Dengan demikian telah kita kethaui behwa orang yang meriwayatkan hadits disebut juga Al Rawi sedangkan  Apa yang diriwayatkannya dinamakan  al-marwi. Dalam meriwayatkan hadis perawi atau al-rawi dalam periwayatannya terdapat 8 bentuk metode atau model yang dijumpai atau ditemukan dalam meriwayatkan sebuah hadits.

Delapan model tersebut diantaranya  yaitu Mendengar (As Sima’i), Membaca (al-qira’ah), Ijazah (pemberian izin), Memberi (al-Munawalah), Menulis (al-Kitabah), Memberitahukan (al-‘I’lam), Wasiat (al-Wasiyah) dan Penemuan (al-Wijadah).

Leave a Reply

Your email address will not be published.