Khatib
Orang yang menyampaikan khotbah jumat adalah

Orang yang menyampaikan khotbah jumat adalah

Posted on

Orang yang menyampaikan khotbah jumat adalah

Dalam agama islam dakwah merupakan sarana untuk menyampaikan ajaran islam yang sesuai syariat kepada manusia terutama bagi umat islam tersendiri agar memperkokoh keimanan dan ketaqwaan kepada Allah subhanahu wata’ala.

Dalam penyampaiannya dakwah islam harus dilakukan dengan sopan santun, adab dan tata krama yang benar, dengan begitu pendengar akan lebih mudah menerima isi dakwah yang disampaikan.

Selain itu dalam berdakwah diperlukan teknik atau metode serta pengenalan terhadap audiens dan lingkungannya agar orang yang akan berdakwah bisa menyesuaikan materi dan metode dakwah.

Salah satu kondisi yang konsisten yang dipakai untuk berdakwah dalam islam yaitu pada waktu shalat jum’at, di mana pada waktu tersebut terdapat momen yang disebut khutbah. Orang yang menyampaikan khotbah jumat adalah khatib.

Dalam perkembangan Islam dari zaman Rasulullah hingga kini, khutbah jum’at merupakan media penuntun umat, menguatkan keimanan muslim serta dapat dijadikan sarana untuk menyelesaikan persoalan baik dalam bidang keagamaan maupun sosial berdasarkan sudut pandang agama.

Hal tersebut menjadi alasan saat ini materi khutbah jumat semakin bervariasi karena tuntutan zaman yang semakin berkembang karena materikhutbah jum’at haus menyesuaikan dengan kebutuhan jamaah.

A. Pengertian Khutbah Jum’at

Secara bahasa kata khutbah berasal dari kata khataba yakhtubu masdarnya khutbatan yang memiliki arti pidato, ceramah, atau orasi yang disampaikan di depan publik. Orang yang menyampaikan khotbah jumat adalah khatib, sedangkan jamaahnya disebut khatabah.

Berdasarkan definisi tersebut maka khutbah jum’at yaitu penyampaian ceramah yang di dalamnya merupakan kata-kata pilihan yang tersusun dengan baik, memiliki pengaruh yang kuat, serta isinya mengandung muatan nasihat yang bertujuan mengajak manusia supaya menaati Tuhannya, Allah subhanahuwata’ala.

Khutbah jum’at disampaikan pada waktu yang telah ditentukan oleh syariat yaitu hari jum’at pada waktu shalat dzuhur berdasarkan syarat dan rukun yang telah ditetapkan.

B. Tata Cara Khutbah

Khutbah jum’at dilaksanakan setelah selesai shalat jum’at yakni pada waktu dzuhur, berikut merupakan yang termasuk syarat sah dalam melaksanakan shalat jum’at menurut imam syafi’i:

  1. Waktu yang dditentukan dalam melaksanakan shalat jum’at yaitu telah masuk waktu dzuhur dari awal sampai akhir pelaksanaannya. Dengan begitu jika pelaksanaan shalat jum’at dilakukan di luar waktu dzuhur meskipun satu rakaat hukumnya tidak sah.
  2. Pelaksanaan shalat jum’at hendaknya dilakukan di tengah-tengah sebuah kampung agar dapat dijangkau oleh masyarakat.
  3. Pelaksanaan shakat jum’at harus dilakukan secara berjamaah dengan jumlah minimum jamaah sebanyak 40 orang, jika tidak demikian maka hukumnya tidak sah.
  4. Batas minimal orang yang melakukan shalat jum’at berjumlah 40 orang yang mana 40 orang tersebut harus bisa membaca bacaan shalat dengan baik dan benar, selain itu dari jumlah jamaah tersebut semuanya harus baligh, berakal dan warga asli setempat (bukan tamu), jika saalah satu dari hal-hal tersebut tidak terpenuhi maka shalat jum’at dinyatakan tidak sah.
  5. Pelaksanaan shalat jum’at tidak diperbolehkan lebih dari satu jum’atan dalam satu kampung halaman, jika terdapat banyak pelaksanaan shalat jum’at dalam suatu kampung maka hukumnya tidak sah, kecuali dalam keadaan terpaksa misalnya mengalami kesulitan dalam mengumpulkan masyarakat.
  6. Pelaksanaan shalat jum’at didahului dengan dua khutbah, untuk membedakan antara shalat jum’at dengan shalat ied.

C.  Rukun-rukun Khutbah

  1. Mengucapkan hamdalah dalam bentuk lafazh apa pun yang mengandung pujian kepada Allah subhanahu wata’ala.
  2. Mengucapkan shalawat pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan bentuk lafazh apa pun yang menunjukkan shalawat.
  3. Wasiat takwa dengan bentuk ucapan apa pun.
  4. Membaca salah satu ayat dari Al Quran pada salah satu khutbah. Ayat al-qur’an hendaklah dibaca dengan jelas.
  5. Berdoa kepada kaum mukminin pada khutbah kedua dengan doa-doa yang telah ma’ruf.

D. Pengertian Khatib

Secara singkat, orang yang meyampaikan khotbah jum’at adalah khatib. Sedangkan secara istilah khatib merupakan pemimpin jama’ah yang memiliki tugas memberikan dan membacakan khutbah di atas mimbar.

Namun dalam prakteknya khatib bukan hanya pemimpin dalam rangkaian ibadah salat jum’at tetapi sebagai media penyambung lidah untuk menyampaikan ajaran islam.

Dengan demikian, khatib merupakan bagian penting yang mana tidak sembarang orang bisa melakukan peranannya, karena seorang khatib hendaknya merupakan seorang yang ahli ibadah memiliki wawasan luas mengenai pengetahuan agama.

E. Kompetensi Khatib Jum’at

Khatib jum’at dalam penyampaiannya tidak bisa disamakan dengan penyampaian ceramah atau pidato pada umumnya.

Seorang khatib harus memiliki karakteristik kuat, berwibawa dan semangat membara. Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Rasulullah shalallahu alaihi wasalam yaitu Jabir bin Abdullah menyampaikan bahwa Rasulullah ketika berkhutbah kedua matanya memerah, suaranya keras, dan semangatnya bangkit bagaikan seorang komandan perang yang mengatakan akan datangnya musuh di pagi hari atau sore hari (HR Muslim, Nasa‟i, Abu Daud, dan Ahmad).

Larry King memaparkan terdapat delapan ciri-ciri pembicara (Khatib) yang baik yaitu sebagai berikut.

  1. Menilai suatu hal berdasarkan paradigma yang baru, artinya khatib tidak hanya membacakan khutbah, tetapi menyampaikan suatu pola pikir agar dipahami semua jamaahnya.
  2. Memiliki wawasan yang luas, khatib seyogyanya mempunyai cakrwala mengenai ilmu pengetahuan yang sangat luas. Dengan begitu bisa menyampaikan berbagai contoh dari segala penjuru dunia.
  3. Antusias, khatib juga perlu memiliki semangat yang membara hingga semangat tersebut terasa sampai kepada jamaahnya pun antusias untuk meyimak dengan baik sampai tersentuh hatinya.
  4. Tidak pernah membicarakan mereka sendiri, khatib saat memberi contoh sesuatu, dia memberi contoh selain dirinya sendiri.
  5. Memiliki rasa ingin tahu yang kuat,seorang khatib harus mengenal situasi dan kondisi lingkungan sekitar, sehingga dapat dijadikan contoh agar para jamaah lebih mudah memahami.
  6. Menunjukkan empati, seorang khatib hendaknya memiliki rasa kepedulian yang tinggi yang terjadi dalam kehidupan dunia terutama berkaitan dengan peristiwa yang menimpa umat muslim.
  7. Memiliki selera humor, saat menyampaikan khutbah hendaknya disisipi dalam hal penyampaiannya, khatib dengan sedikit humor agar jamaah tidak merasa jenuh namun jangan sampai menghilangkan esensi dari isi khutbah.

 

Berdasarkan pemaparan yang telah dijelaskan di ata telah kita ketahui bahwa orang yang menyampaikan khotbah jumat adalah khatib dan jamaah yang mendengarkan disebut khatabah.

Dalam menyampaikan khutbah jum’at seorang khatib harus memenuhi rukun-rukun yang terdapat dalam jhutbah jum’at. Seorang khatib juga haru memiliki kompetensi yang mumpuni dalam menyampaikan khutbah jum’at di atas mimbar baik kompetensi dari segi karakter baik dari segi ilmu pengetahuan.

Dengan demikian materi khutbah jumat dapat tersampaikan kepada para jamaah hingga terenyuh hatinya sehingga menambah kualitas iman para jamaahnya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.