Orang yang Mengeluarkan Zakat disebut

Orang yang Mengeluarkan Zakat disebut

Posted on

Orang yang Mengeluarkan Zakat disebut

Islam memiliki lima rukun yang wajib ditaati atau dikerjakan oleh umat Islam, salah satu dari kelima rukun tersebut yaitu zakat. Diantara keempat rukun yang lainnya zakat memiliki posisi yang berbeda, perbedaan tersebut yaitu keempat rukun yang lain dikerjakan dalam upaya mempererat hubungan antara makhluk dan Allah subhanahu wa ta’ala sebagai rabbnya atau yang disebut dengan hablumminallah.

Sedangkan zakat di samping mempererat hubungan dengan makhluk dengan rabbnya zakat memiliki dimensi lain yaitu habluminannas dimana zakat bisa membangun hubungan sosial antar sesama manusia, menciptakan empati dan kepedulian antara yang kaya dan yang miskin. Berbicara mengenai zakat, apakah orang yang mengeluarkan zakat disebut orang kaya? Marikita simak penjelasannya.

A.  Pengertian Zakat

Zakat menurut bahasa artinya tumbuh, berkembang, subur atau bertambah. Sedangkan menurut istilah zakat merupakan jumlah harta tertentu wajib dikeluarkan oleh seseorang yang beragama Islam kemudian harta tersebut diberikan kepada golongan yang berhak menerima zakat atau yang disebut dengan mustahik menurut ketentuan yang telah ditetapkan oleh syariat Islam.

Adapun istilah bagi orang yang mengeluarkan zakat disebut Muzakki, sedangkan istilah bagi orang yang menerima zakat disebut Mustahik.

B. Dasar Hukum Wajibnya Mengeluarkan Zakat

    1. Allah memerintahkan agar orang-orang yang beriman mengeluarkan .sebagian harta bendanya untuk kebaikan dari harta bendanva yang baik-baik, bukan yang buruk-buruk {AI-Baqarah : 2,267)
    2. Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal soleh, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannva. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak mereka bersedih hati (AI-Baqarah : 2,277)
    3. Dari Abu Hurairah, Nabi Saw bersabda : “Tidak ada orang yang memiliki simpanan kekayaan yang tidak mau memberikan zakatnya, kecuali kekayaan itu dibakar di api neraka jehannam yang kemudian dijadikan kepingan-kepingan guna menyetrika kedua lambung dan dahinya sampai Allah Swt menghukum hamba-hambaNya pada hari kiamat yang famanya diperkirakan lima puJuhtahun kemudian baru akan diketahui nasibnya, apakah ia ke surga atau ke neraka” (HR. Bukhari).
    4. Rasulullah Saw bersabda : “Barang siapa diberi Allah Swt kekayaan tetapi tidak tnenunaikan zakatnva, maka pada hari kiamat nanti kekayaan itu akan dirupakan ular jan tan yang besar kepaianva (disebabkon banyak bisanya) yang memiliki dua titik hitam di atas matanyo, dan ufar itu akan membelit orang itu, seraya berkata “akulah kekayaanmu dan akulah harta bendamu” (HR. Muslim)
    5.      وَاَقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَاٰتُوا الزَّكٰوةَ وَارْكَعُوْا مَعَ الرَّاكِعِيْنَ.

Dan laksanakanlah salat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah beserta orang yang rukuk (Q.S. Al-Baqarah: 43)

C.  Syarat Wajib Zakat

Muzakki atau orang yang mengeluarkan zakat harus memenuhi syarat wajib zakat diantaranya sebagai berikut:

  1. Islam

Orang yang mengeluarkan zakat wajib beragama Islam. Zakat fitrah diwajibkan kepada semua umat Islam, tanpa ada pengecualian. Sedangkan zakat maal atau zakat harta hanya diwajibkan kepada orang islam yang mampu dan telah memenuhi syarat dan rukun yang telah ditetapkan, sebagaimana dijelaskan dalam hadits Rasulullah berikut:

“Ajaklah mereka untuk mengucapkan dua kalimat syahadat, jika mereka sudah mengucapkannya maka perintahkan mereka untuk mengerjakan shalat lima wakatu dalam sehari semalam, jika mereka telah mentaatinya maka ajak/ah mereka untuk membayar zakat dari sebagian harta mereka, jika mereka telah mentaatinya maka ajaklah mereka untuk berpuasa pada bulan Ramadhan, jika mereka telah mentaatinva maka ajarkan mereka untuk pergi haji ke baitullah bagi mereka yang mampu”.

Berdasarkan hadits tersebut maka tidak ada alasan bagi umat Islam yang mampu untuk tidak menunaikan kewajiban zakatnya, jika sudah memenuhi syarat dan rukunnya.

2. Merdeka

Orang yang mengeluarkan zakat haruslah seseorang yang merdeka. Zakat tidak wajib atas hamba sahaya, karena mereka tidak mempunyai hak kepemilikan harta.

3. Baligh dan Berakal

Orang yang mengeluarkan Zakat harus dalam keadaan baligh dan berakal. Baligh ialah telah mencapai umur dewasa, maksudnya telah mengerti juga paham dengan harta yang dimilikinya, yakni dari mana harta itu ia dapatkan, bagaimana cara menggunakannya, harta mana yang harus ia zakatkan, kemana seharusnya ia membayar zakat dan lain sebagainya. Sedangkan berakal ialah kondisi seseorang tidak dalam keadaan hilang akal alias gila.

4. Telah mencapai nishab

Nishab merupakan salah satu syarat wajib seseorang yang mengeluarkan zakat. Nishab adalah jumlah batas harta benda minimal yang wajib dizakati.

Penentuan nishab merupakan ketetapan ajaran Islam dalarn rangka mengamankan harta yang dimiliki muzaki. Ketika seseorang memiliki harta yang jumlahnya telah mencapai batas minimal, dengan demikian orang tersebut bila syarat lainnya terpenuhi dikenakan kewajiban membayar zakat.

5. Milik Penuh

Harta yang dimiliki orang yang mengeluarkan zakat haruslah harta milik penuh. Harta milik penuh ialah harta yang dimiliki oleh seseorang secara menyeluruh dan berada di tangan sendiri.

Dengan demikian, seseorang yang memiliki sesuatu tetapi tidak memegangnya, seperti harta yang hilang, harta yang disita oleh penguasa, harta yang masih di tangan orang lain, warisan yang belum dibagi atau sebagainya tidak wajib dizakati.

Namun, sebagai contoh harta milik bersama seperti perusahaan (berupa CV atau PT) atau usaha bersama yang dlmillki umat Islam boleh saja mengeluarkan zakatnya, asalkan sudah ada kesepakatan bersama diantara semua pemilik usaha.

6. Kepemilikan harta telah mencapai setahun (haul)

Syarat wajib selanjutnya bagi muzaki atau orang yang mengeluarkan zakat yaitu haul. Haul berarti jangka waku satu tahun yang menjadi batas kewajiban membayar zakat.

Sekiranya seseorang memiliki harta yang telah sampai pada nishab ketika permulaan tahun, kemudian harta tersebut tetap utuh sampai berakhirnya tahun tersebut, maka dia perlu mengeluarkan zakatnya.

7.  Tidak dalam keadaan berhutang

Orang yang mengeluarkan zakat (muzaki) haruslah bersih dari hutang. Sekiranya seseorang memiliki harta, kemudian secara syarat dan rukun zakat telah dilakukan, akan tetapi yang bersangkutan masih mempunyai hutang, maka ia tidak terkena wajib zakat sebelum melunasi hutangnya.

D. Syarat Sah Pelaksanaan Zakat

Muzaki atau orang yang mengeluarkan zakat haruslah memenuhi syarat sah pelaksanaan zakat, yaitu sebagai berikut:

1. Niat

Niat merupakan syarat utama bagi umat Islam yang harus diucapkan dalam melaksanakan atau mengerjakan semua ibadah.

Semua amalan yang dikerjakan oleh umat Islam baik buruknya tergantung pada niatnya, sebagaimana hadis rasulullah yang diriwayatkan oleh Umar bahwa Rasulullah telah bersabda ”Semua perbuatan tergantung niatnya, dan (balasan) bagi tiap-tiap orang (tergantung) apa yang diniatkan. Barangsiapa niat hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya adalah kepada Allah dan Rasul-Nya dan barangsiapa niat hijrahnya karena dunia yang ingin digapainya atau karena seorang perempuan yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya adalah kepada apa dia diniatkan.” (HR. Bukhari: 54).

2. Tamlik

Tamlik menjadi syarat sahnya pelaksanaan zakat, yaitu harta zakat diserahkan kepada mustahik. Dengan demikian, seseorang tidak boleh memberikan makan (kepado mustahik), kecuali dengan Jalan tamlik. Mazhab Hanafi berpendapat bahwa zakat tidak boleh diserahkan kepada orang gila atau anak kecil yang belum mumayyiz.

Kecuali, jika harta yang diberikan terse but diambil oleh orang yang berwenang mengarnbilnva, misalnya ayah, orang yang diberi wasiat, atau yang lainnya.

 

Zakat merupakan rukun Islam yang ke-3 yang mana semua umat Islam wajib menaati dan mengerjakannya terlebih lagi pada zakat fitrah gimana semua umat Islam tanpa terkecuali harus membayar zakat. Pada zakat maal atau zakat harta hanya orang-orang Islam tertentu yang memiliki jumlah harta tertentu yang wajib mengeluarkan zakat.

Zakat merupakan ibadah yang berbeda dengan rukun Islam lainnya mana selain memperkokoh hubungan makhluk dengan Tuhannya atau biasa disebut hablum minallah zakat juga merupakan ibadah habluminannas. Dalam hal habluminannas zakat merupakan ibadah yang bercorak sosial ekonomi dimana keberadaannya sangatlah penting terhadap pemberdayaan,
kesejahteraan dan harmonisasi dalam umat Islam.

Dengan demikian hal tersebut menuntut umat Islam untuk memperhatikankan penghimpunan dan pemberdayaan zakat, misalnya saja yang telah kita ketahui di Indonesia penghimpunan dan pemberdayaan zakat dikelola organisasi BAZNAS yang merupakan badan amil zakat nasional.

Adapun orang yang mengeluarkan zakat disebut Muzakki sedangkan orang yang menerima zakat disebut mustahik. Seorang Muzakki atau orang yang mengeluarkan zakat haruslah memenuhi syarat wajib zakat diantaranya orang yang mengeluarkan zakat haruslah beragama Islam, merdeka, baligh dan berakal, telah mencapai nisab, milik penuh, haul, dan tidak dalam keadaan berhutang.

Selain syarat wajib zakat Muzakki atau seseorang yang mengeluarkan zakat haruslah memenuhi syarat sah pelaksanaan zakat yaitu yang pertama niat dan tamlik.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.