Tayamum
orang yang melakukan tayamum adalah orang yang

Orang yang melakukan tayamum adalah orang yang

Posted on

Orang yang melakukan tayamum adalah orang yang

Sebagai manusia kita tidak terlepas dari mobilitas dalam kehidupan sehari-hari, mobilitas tersebut ada kalanya membuat kita memiliki kesulitan dalam berbagai hal, termasuk sebagai muslim kita dituntut untuk melaksanakan ibadah lima kali dalam sehari. Ibadah tersebut dilaksanakan dalam keadaan suci melalui kegiatan salah satunya berwudhu.

Dalam berwudhu tentunya membutuhkan air namun pada prakteknya tidak semua keadaan kita bisa menggunakan dalam keadaan tertentu kita tidak bisa menggunakan air.

Sahabat muslim yang dirahmati Allah, agama islam merupakan agama yang sempurna di dalamnya tidak ada unsur mempersulit pemeluknya, banyak sekali kemudahan-kemudahan dalam melaksanakan ibadah yang disesuaikan dengan kondisi umatnya termasuk dalam bersuci.

Tayamum merupakan salah satu bagian dari bersuci (thaharah) yang kita kenal sebagai pengganti wudhu ketika hendak mlekasanakan ibadah, namun orang yang melakukan tayamum adalah orang yang tidak bisa melaksanakan wudhu.

Dengan demikian, pembahasan berikut akan menjelaskan mengenai seputar tayamum meliputi syarat dan rukunnya.

A. Pengertian Thaharah

Secara bahasa kata thaharah berasal dari bahasa yang memiliki arti bersuci. Secara istilah thaharah bermakna kebersihan dan kesucian dari berbagai hadas dan najis. Bersuci dari najis terdiri dari dua yaitu najis yang kasatmata (najis hissi) seperti air kencing, kotoran, darah, mani dan lain sebagainya, maupun najis tidak kasatmata (najis ma’nawi) seperti aib dan kemaksiatan.

Ketika hendak beribadah, seorang muslim hendaknya dalam keadaan suci dari hadas dan najis, cara bersuci yang ditetapkan menurut syariat islam yaitu melalui wudhu, mandi dan tayamum.

Dalam pemaparan berikut akan membahas cara bersuci melalui tayamum dari mulai pengertian hingga hal yang dapat membatalkan tayamum.

B. Pengertian Tayamum

Kahar Masyhur memaparkan dalam Buku Shalat Wajib Menurut Mazhab yang empat, secara bahasa kata tayamum berasal dari bahasa arab yaitu القصد bermakna sengaja. Sedangkan menurut syara’ pengertian dari tayamum yaitu mengusap muka dan dua tangan dengan debu yang menyucikan berdasarkan cara tertentu.

Berdasarkan mazhab Syafi’iyah dan Malikiyah memaparkan hukum harus dengan adanya niat dikarenakan niat merupakan bagian dari rukun tayamum, sedangkan cara pelaksanaannya yakni menempelkan telapak tangan pada tanah atau debu yang menyucikan.

Pelaksanaan tayamum merupakan rukhsah bagi kaum muslim pada saat keadaan tertentu, yaitu keadaan di mana tidak menemukan atau tidak bisa menggunakan air untuk bersuci. Orang yang melakukan tayamum adalah orang yang dalam keadaan tidak bisa melaksanakan wudhu.

C. Dasar Hukum Tayamum

Dasar hukum tayamum banyak disebutkan dalam Al-qur’an dan hadis, diantaranya sebagai berikut.

1. Surat Al-Maidah ayat 6 yang artinya berbunyi:

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, Maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub Maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, Maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur”

2. Hadits Rasulullah shalallahu wasalam yang artinya berbunyi:

“Dari Abdurrahman bin Abza, bahwa seorang lelaki datang kepada Umar bin Khaththab, dia berkata, “Sesungguhnya aku junub, akan tetapi aku tidak mendapatkan air.” Maka Umar berkata, “Janganlah kamu shalat!” Maka Ammar bin Yasir berkata, “Apakah engkau tidak ingat, wahai Amirul Mukminin, ketika aku dan engkau dalam sebuah sariyyah (sekelompok tentara) lalu kita junub dan tidak mendapatkan air! Adapun engkau tidak mengerjakan shalat, sedangkan aku berguling-guling di tanah. Ketika aku datang kepada Nabi SAW, lalu aku ceritakan hal tersebut, maka beliau bersabda, ‘Sesungguhnya cukup bagimu begini’. Kemudian Nabi SAW menepukkan kedua tangannya ke bumi, lalu meniup kedua tangan itu dan mengusap wajah serta lengannya dengan kedua telapak tangannya.” (H.R. Bukhari, No. 338)

D. Syarat Sah Tayamum

  1. Terdapat halangan (udzur) karena bepergian atau sakit. Melakukan perjalanan yang jauh dan menggunakan transportasi umum yang mana tidak memungkinkan untuk berhenti untuk mencari air untuk bersucidan beribadah. Sedangkan keadaan sakit yang dimaksud yaitu keadaan sakit yang mana ketika terkena air penyakitnya akan bertambah parah.
  2. Telah memasuki waktunya shalat, menurut para ulama fiqih tidak sah pelaksanaan tayamum jika belum memasuki waktu shalat.
  3. Keadaan seseorang tidak menjumpai air sama sekali yang akan dipakai untuk melaksanakan wudhu atau mandi junub. Keadaan tersebut bisa dalam keadaan kekeringan, kekhawatiran atau ketakutan dalam mencari air.
  4. Media tayamum yaitu harus menggunakan debu yang suci dan tidak dibasahi.

E. Fardu Tayamum

Tayamum pada pelaksanaannya terdapat ketentuan yang harus dipenuhi, yaitu sebagai berikut.

  1. . Niat. Niat merupakan unsur yang harus ada dalam setiap aspek ibadah termasuk dalam pelaksanaan tayamum.
  2. Mengusap muka dengan tanah atau debu.
  3. Mengusap kedua tangan sampai siku, pada sebagian ulama berpendapat mengusap tangan cukup sampai pergelangan tangan.
  4. Tertib, maksudnya dilakukan secara berurutanseperti mendahulukan muka daripada tangan.

F. Hal-hal yang Membatalkan Tayamum

1. Faktor yang dapat membatalkan tayamum merupakan semua hal yang membatalakan wudhu, diantaranya :

  • Sesuatu yang keluar dari salah satu atau kedua pintu kemaluan.
  • Hilangnya akal, baik karena mabuk, gila atau dalam keadaan tidur dimana tempat keluar angin tidak tertutup, namun jika tidur dalam keadaan duduk tidak membatalkan wudhu.
  • Adanya kontak fisik antara kulit laki-laki dan perempuan yang sudah baligh dan bukan mahram serta tidakada penghalang diantara kedua kulit tersebut.
  • Memegang atau menyentuh kemaluan (qubul atau dubur) dengan telapak tangan atau dengan bagian dalam jari-jari yang tidak memakai tutup (walaupun kemaluannya sendiri).

2. Orang yang melaksanakan tayamum karena berhadas besar tidak akan kembali berhadas besar, terkecuali jika ditimpa yang mewajibkan mandi.

3. Hilangnya udzur yang dapat membolehkan tayamum, semisal menjumpai air setelah sebelumnya tidak membatalkannya.

4. Murtad, keluarnya seseorang dari agama islam.

 

 

Demikianlah sahabat muslim pemaparan singkat mengenai pelaksanaan tayamum dari mulai pengertian, syarat sah tayamum, fardu tayamum, dasar hukum tayamum dan faktor yang menyebabkan batalnya tayamum.

Dengan demikian tayamum merupakan rukhsah bagi umat islam yang dalam keadaan seseorang sulit mendapatkan dan menggunakan air agar tetap bisa beribadah kepada Allah subhanahu wata’ala, karena orang yang melakukan tayamum adalah orang yang tidak bisa melaksanakan wudhu terlepas darialasan yang telah ditentukan syariat.

Islam merupakan agama yang fleksibel tidak mempersulit umatnya dalam keadaan apapun, dengan demikian tidak ada satu alasanpun kita sebagai pemeluk agama islam untuk tidak beribadah kepada Rabbul ‘alamin, karena dalam syariatnya begitu banyak kemudahan-kemudahan bagi umatnya yang mengalami situasi dan keadaan tertentu.

Sebelum malaikat Izrail menghampiri kita untuk menjemput menghadap Allah marilah kita perbanyak ibadah dalam situasi dan kondisi apapun meskipun dengan cara yang tidak sempurna.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.